1. MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS DAN EFEKTIVITAS MELALUI KOMUNIKASI DAN KONSULTASI ANTARA PEMERINTAH, DUNIA USAHA, DAN MASYARAKAT.
2. MEMPERCEPAT PERWUJUDAN PERAN KIM LESTARI SEBAGAI WAHANA ATAU MEDIA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA, KEMAJUAN DUNIA USAHA, DAN MENSEJAHTERAKAN MASYARAKAT PADA UMUMNYA DAN ANGGOTA PADA KHUSUSNYA.

Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Lestari berdiri sejak 31 Agustus 2006 yang diketuai oleh Budi Prihatminingtyas, SE, MAB yang lebih dikenal dengan nama Ibu Titin Susanto. Namun, KIM Lestari telah eksis sejak 1993 dengan nama Kelompencapir Lestari. Kemudian tahun 2001 berubah nama menjadi Kesima Lestari dan pada 2004 menjadi Infokom Lestari sesuai SK Walikota Malang. Dan seiring perkembangan zaman, melalui KIM Lestari, Tunjungsekar lebih maju, baik dari segi ekonomi, prestasi, hingga teknologi informasi.
Keanggotaan dalam KIM Lestari ini terdiri dari masyarakat di Kelurahan Tunjungsekar. Mayoritas keanggotaannya yaitu ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai penjahit dan pengusaha kecil di bidang makanan. Warga yang tergabung dalam Lestari pun terus melakukan koordinasi agar tetap bisa berkarya dan menambah penghasilan. Lestari merupakan salah satu media dalam penyampaian informasi dari pemerintah ke masyarakat, dan sebaliknya.

Produk unggulan yang diproduksi, pada dasarnya dibuat dari bahan yang mudah didapat. Berawal dari tanaman obat keluarga (Toga), seperti jahe, kencur, dan kunir yang banyak dihasilkan daerah mereka. Muncullah ide untuk mengolahnya menjadi produk yang lebih punya nilai jual. Pelbagai inovasi pun dilakukan. Bahan-bahan diolah menjadi makanan berupa manisan dan serbuk untuk minuman. Keunggulan dari produk ini yaitu tanpa menggunakan bahan pengawet.
Masa kadaluarsa makanan dan minumannya bisa bertahan sampai dua bulan. Agar dapat lebih awet dan tahan lama, Lestari memiliki tips pada proses pembuatan atau pengolahan dengan memakai bahan-bahan pilihan dan higienis, sehingga produk dapat lebih tahan lama. Harga jualnya rata-rata berkisar Rp 5.000 untuk kemasan bungkus plastik dan Rp 10.000 untuk kemasan toples kaca ukuran kecil.

Sentuhan KIM Lestari dengan teknologi informasi bisa dilihat dari upaya mereka meluaskan daerah pemasaran. Untuk memasarkan produk berbahan Toga ini mereka melakukan promo di Malaysia pada 2006 yakni dengan Malaysia External Trade Development Corporation. Dari promo tersebut, kini KIM Lestari mengupayakan pemasaran produknya untuk di ekspor ke Malaysia.

Selain itu, untuk lebih meningkatkan pemberdayaan dan pengembangan ekonomi masyarakat, Lestari kini juga telah mencoba memproduksi peyek, kripik antari, dan kripik berbahan dasar buah, yakni nangka, pisang, apel, dan kentang. Pemasarannya pun masih di sekitar Kota Malang.